Connect with us

Liga Italia

Yah, Gagal Maning! Transfer Kobbie Mainoo ke Napoli Terancam Batal Gara-gara Dompet “Boncos”

mainoo

Waduh, Napoli Gigit Jari! Mainoo Gagal Merapat ke Italia?

tebakskor889 – Halo Sobat Bola! Pertama-tama, ada kabar kurang sedap nih buat kalian pendukung Napoli alias Partenopei. Ambisi klub kesayangan kalian buat “menculik” wonderkid Manchester United, Kobbie Mainoo, sepertinya harus terkubur dalam-dalam. Padahal, hype-nya sudah tinggi banget, eh tiba-tiba masalah klasik muncul: Duit.

Baru saja kemarin Napoli berpesta pora gara-gara menjuarai Supercoppa Italiana. Namun, sekarang keadaan memaksa mereka “puasa” belanja. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kabarnya sedang galak banget menerapkan aturan keuangan. Bahkan, FIGC menilai neraca keuangan Napoli sedang “merah” alias gak seimbang.

Dompet Tipis, Aturan Sadis

Laporan terbaru menyebutkan bahwa biaya gaji pemain di Napoli sudah kegedean dibanding pendapatan yang masuk. Ibarat kata, “Besar Pasak daripada Tiang”. Akibatnya, klub membatalkan rencana belanja pemain bintang di Januari secara total. Jadi, jangan harap manajemen akan membawa koper berisi uang dari Naples ke Manchester dalam waktu dekat, ya.

Status Transfer Mainoo: Beku Total!

Media Italia, Corriere dello Sport, membocorkan fakta bahwa manajemen Napoli sedang ketar-ketir. Mereka terindikasi melanggar batas rasio biaya tenaga kerja. Walaupun surat cinta resmi dari FIGC belum turun, klub sudah mengambil ancang-ancang buat skenario terburuk.

Lantas, apa efeknya? Manajemen resmi MEMBEKUKAN negosiasi buat Kobbie Mainoo. Oleh karena itu, Napoli gak punya pilihan selain mundur teratur dan melupakan jasa gelandang muda yang lagi naik daun itu.

Strategi “Zero-Balance”: Jual Dulu, Baru Beli

Sekarang, Napoli memakai mode hemat ekstrem alias Zero-Balance. Artinya, kalau manajemen mau mendatangkan pemain baru (itu pun cuma pinjaman), mereka harus melepas pemain lama dulu. Klub tidak akan mengeluarkan duit kalau gak ada aset yang terjual.

Fokus manajemen sekarang banting setir: Kurangi Beban Gaji! Mereka harus buru-buru menyeimbangkan pembukuan klub biar gak kena sanksi lebih berat.

Cuci Gudang Pemain, West Ham Siap Nampung?

Demi menyelamatkan keuangan, Napoli siap melakukan “cuci gudang”. Manajemen telah memasukkan pemain-pemain pelapis yang jarang main kayak Luca Marianucci dan Pasquale Mazzocchi ke etalase jual. Selain itu, klub juga siap melepas nama lain kayak Antonio Vergara dan Giuseppe Ambrosino secara permanen.

Menariknya, situasi ini membuat klub Inggris, West Ham United, memasang mata. Kabarnya mereka naksir berat sama Lorenzo Lucca. Kalau West Ham berani membayar mahal, hal ini bisa jadi angin segar buat kas Napoli yang lagi seret.

Intinya, realita finansial memaksa Napoli buat “membumi” lagi setelah pesta juara di Riyadh kemarin. Sabar ya, Napoletani!


Deep Dive: Kenapa Aturan FIGC Bikin Napoli “Mati Kutu”?

Bagian ini adalah tambahan informasi mendalam yang diambil dari data dan tren sepak bola Eropa untuk memperkaya wawasan kamu tentang situasi ini.

Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya, “Kok bisa klub sekelas Napoli yang baru juara Supercoppa dan juara Serie A (Scudetto) musim 2022/2023 tiba-tiba gak punya duit?” Nah, mari kita membedah masalah ini menggunakan data dan konteks regulasi sepak bola Italia yang memang terkenal njlimet.

1. Mengenal “Indeks Likuiditas” (Liquidity Index) FIGC

Perlu diketahui, FIGC di Italia punya aturan main yang beda sama Financial Fair Play (FFP) ala UEFA atau PSR di Liga Inggris. Mereka menggunakan apa yang disebut Indeks Likuiditas. Sederhananya, ini adalah rasio yang mengukur kemampuan klub membayar utang jangka pendek dengan aset lancar (uang kas) yang mereka punya.

Berdasarkan pencarian data regulasi Serie A, setiap bursa transfer, klub harus membuktikan bahwa indeks likuiditas mereka berada di atas angka tertentu (biasanya sekitar 0.6 atau 0.7). Jika rasionya di bawah itu, FIGC akan memblokir akses klub untuk mendaftarkan pemain baru.

Situasi inilah yang sedang menimpa Napoli. Meskipun mereka punya aset pemain mahal (seperti Victor Osimhen atau Kvaratskhelia), regulator tidak menganggap aset itu sebagai “uang tunai” sampai klub benar-benar menjualnya. Jika uang kas di bank menipis sementara tagihan gaji pemain membengkak, lampu merah dari FIGC akan menyala.

2. Kenapa Kobbie Mainoo Jadi Target Ambisius?

Melihat data performa Kobbie Mainoo di Google, wajar jika Napoli ngebet. Mainoo bukan sekadar gelandang biasa. Di usia yang masih sangat muda, dia punya statistik dribble success rate dan passing accuracy yang sangat tinggi di Premier League. Dia tipe gelandang modern yang tenang di bawah tekanan (press-resistant).

Napoli butuh sosok seperti ini untuk menggantikan peran gelandang box-to-box. Akan tetapi, harga pasar Mainoo menurut Transfermarkt terus meroket. Manajemen tentu mengambil langkah nekat yang hampir mustahil jika mencoba merekrutnya saat kondisi keuangan sedang “sakit”. MU pun pasti memagari Mainoo dengan harga fantastis (di atas €60-70 juta).

3. Gaya Bisnis Aurelio De Laurentiis (ADL)

Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis, terkenal sebagai negosiator ulung yang sangat perhitungan. Dia bukan tipe pemilik yang suka “bakar duit” kayak pemilik Chelsea atau PSG. Filosofi ADL adalah sustainability (keberlanjutan).

Data sejarah transfer Napoli menunjukkan mereka jarang membeli pemain bintang yang sudah jadi. Sebaliknya, mereka lebih suka beli pemain “setengah matang”, memolesnya, lalu menjualnya dengan harga mahal (contoh: Cavani, Higuain, Kim Min-jae). Kebijakan Zero-Balance adalah ciri khas ADL saat cashflow sedang tidak sehat. Dia tidak akan menyuntikkan dana pribadi jika klub bisa mandiri dengan menjual pemain.

4. Faktor West Ham dan Lorenzo Lucca

Terakhir, keterkaitan West Ham dengan Lorenzo Lucca juga masuk akal secara data. West Ham di bawah taktik pelatihnya selalu menyukai striker jangkung yang kuat bola udara. Lucca, dengan tinggi badan 201 cm, adalah satu-satunya striker Italia dengan profil fisik raksasa yang punya teknik bagus.

Bagi Napoli, menjual Lucca ke klub Inggris adalah jalan pintas terbaik. Klub Premier League terkenal punya daya beli tinggi (English Tax). Oleh sebab itu, penjualan ke Inggris bisa langsung menyehatkan Indeks Likuiditas Napoli dalam sekejap, membuka sedikit celah untuk setidaknya meminjam pemain pengganti Mainoo.

Kesimpulannya, drama gagalnya transfer Mainoo ini adalah pengingat bahwa di sepak bola modern, Cash is King. Napoli harus “puasa” dulu demi masa depan yang lebih stabil.

Citislots Pusatnya Slot Gacor dengan RTP terupdate

More in Liga Italia